PSR 1447 H: Ramadan Bulan Pilihan Allah, Saatnya Bersiap dengan Ilmu dan Amal

SINJAI.Wahdah.Or.Id — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Wahdah Islamiyah Sinjai menggelar Penataran Seputar Ramadan (PSR) 1447 H di Markaz DPD Wahdah Islamiyah Sinjai, Ahad, 8 Februari 2026. Kegiatan ini menghadirkan Ustaz Dr. Muhammad Harsyah Bachtiar, Lc., M.A. sebagai pemateri utama.

Dalam penyampaiannya, Ustaz Muhammad Harsyah Bachtiar menegaskan bahwa dalam beramal, khususnya berinfak, seorang muslim tidak perlu menunggu ucapan terima kasih dari lembaga. Justru sebaliknya, kitalah yang seharusnya berterima kasih karena telah difasilitasi untuk berinfak. Amal adalah kebutuhan hamba, bukan kebutuhan organisasi.

Beliau menjelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan seluruh makhluk, lalu memilih sebagian di antaranya untuk dimuliakan. Di antara manusia, Allah mengangkat derajat para nabi, khususnya Ulul Azmi dan Khalilurrahman. Di antara malaikat, Allah memilih Malaikat Jibril sebagai yang paling utama. Demikian pula dengan tempat, Allah memilih dua negeri yang diberkahi, yaitu Makkah dan Al-Quds.

Pemilihan Allah juga tampak pada waktu. Dari dua belas bulan yang diciptakan, terdapat bulan-bulan yang dimuliakan, dan puncaknya adalah bulan Ramadan. Bulan ini disebut secara khusus dalam Al-Qur’an sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an, sehingga menjadikannya bulan yang sangat istimewa dalam syariat Islam.

Terkait suasana Ramadan, beliau menyampaikan bahwa setan yang dibelenggu adalah para pemimpinnya, sedangkan pengikut-pengikut kecilnya masih ada. Oleh karena itu, peluang beramal terbuka luas, namun seorang muslim tetap dituntut untuk menjaga lisan dan perbuatannya. Ramadan juga merupakan bulan kebahagiaan, yakni kebahagiaan saat berbuka puasa dan kebahagiaan ketika kelak berjumpa dengan Rabb-nya.

Menjelang masuknya bulan suci Ramadan, jamaah diarahkan untuk melakukan persiapan, di antaranya segera menunaikan qadha puasa tahun sebelumnya, membiasakan diri dengan puasa sunnah sebagai bentuk pemanasan, serta membersihkan diri dengan memperbanyak istigfar dan memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pada sesi tanya jawab, dijelaskan bahwa dosa yang diampuni secara otomatis adalah dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar memerlukan taubat khusus dan munajat kepada Allah. Saat berpuasa, seorang muslim dilarang berbohong karena termasuk dalam qoul az-zur. Adapun patokan berbuka puasa adalah masuknya waktu Magrib, baik terdengar azan maupun tidak.

Beliau juga menyampaikan kaidah ijtihad, bahwa ijtihad yang benar akan mendapatkan dua pahala, sementara ijtihad yang keliru tetap mendapatkan satu pahala. Bagi kaum muslimin awam, sikap yang tepat adalah mengikuti ulama (muqallid). Terkait adab terhadap Al-Qur’an, menyentuh mushaf disyaratkan dalam keadaan suci, namun diperbolehkan menggunakan alat bantu seperti pena.

Dalam pembahasan qadha puasa, ditegaskan bahwa ibu hamil atau menyusui yang khawatir terhadap diri dan anaknya hanya wajib qadha tanpa fidyah. Fidyah hanya dibolehkan bagi orang tua renta atau penderita sakit kronis yang harus rutin mengonsumsi obat. Wanita hamil tetap wajib mengganti puasa di waktu lain, dan boleh beralih ke fidyah tanpa qadha jika benar-benar tidak mampu, dengan diqiyaskan kepada orang sakit. Adapun bagi wanita yang mengalami kehamilan setiap tahun, selama masih mampu mengqadha, maka kewajiban qadha tetap berlaku.

Menutup materinya, beliau menjelaskan bahwa guru mengaji diperbolehkan mengajarkan murid menggunakan buku Iqra’ karena Iqra’ bukan mushaf Al-Qur’an, meskipun di dalamnya terdapat potongan ayat.

Melalui PSR Penataran Ramadan ini, diharapkan para peserta memiliki pemahaman yang lebih utuh tentang keutamaan bulan Ramadan serta kesiapan ruhiyah dan amaliah dalam menyambut bulan suci yang penuh keberkahan.

By MEDIKOM Wahdah Sinjai